Kamis, 29-01-2026
  • Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)
  • Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)Selamat datang di website sekolah SMAS Katolik Untung Suropati Krian [spasi] Info lengkapnya silahkan hubungi 📞 (031) 8987239 , 0857-0668-3927 (Whatsapp Only)

AI dan Pembelajaran: Antara Tantangan dan Peluang bagi Guru dan Siswa

Diterbitkan : Kamis, 30 Oktober 2025

Sebagai seorang guru yang telah beberapa tahun mendampingi siswa dalam proses belajar, saya merasakan betul bagaimana cepatnya dunia pendidikan berubah seiring dengan kemajuan teknologi. Perkembangan ini semakin terasa sejak munculnya kecerdasan buatan atau yang dikenal dengan istilah Artificial Intelligence (AI). Jika dulu teknologi hanya sebatas alat bantu, kini AI menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan belajar mengajar. Perkembangan ini menimbulkan rasa kagum sekaligus rasa cemas — kagum karena banyak hal menjadi lebih mudah, namun juga cemas karena peran manusia, terutama guru, seolah sedang diuji.

Dalam pengalaman saya, AI menghadirkan peluang yang luar biasa bagi dunia pendidikan. Sebagai guru, saya sering merasa terbantu ketika menggunakan AI dalam merancang pembelajaran. Saat harus menyiapkan materi di tengah waktu yang terbatas, AI dapat membantu menyusun rancangan kegiatan, membuat soal latihan, bahkan memberikan contoh penjelasan yang menarik. Dengan bantuan ini, saya bisa mengatur waktu lebih efisien dan fokus membimbing siswa secara langsung. AI mampu membantu saya menjadi lebih produktif, namun saya tetap sadar bahwa peran utama saya bukan hanya sebagai penyampai informasi, melainkan sebagai pendidik yang menanamkan nilai, membimbing sikap, dan mengembangkan karakter.

Kehadiran AI memang mengubah cara guru bekerja. Namun saya tidak melihatnya sebagai ancaman, justru sebagai alat yang dapat memperkaya cara kita mengajar. AI tidak memiliki empati, rasa, atau intuisi seperti manusia. Ia tidak bisa memahami perasaan siswa yang sedang sedih, tidak termotivasi, atau kehilangan arah. Di sinilah guru tetap memiliki peran yang tidak tergantikan. Guru bukan hanya menjelaskan pelajaran, tetapi juga menjadi pendengar, penyemangat, dan teladan. Saya percaya bahwa secanggih apa pun teknologi, hubungan emosional antara guru dan siswa tetap menjadi inti dari proses belajar yang bermakna.

Dari sisi siswa, saya juga melihat perubahan besar sejak hadirnya AI. Ada siswa yang sangat kreatif menggunakan teknologi ini untuk membantu memahami materi pelajaran, membuat presentasi menarik, bahkan berlatih menulis dengan bantuan sistem pintar. Namun, tidak sedikit pula siswa yang menjadi terlalu bergantung pada AI. Mereka hanya menyalin jawaban tanpa berusaha memahami, seolah lupa bahwa tujuan belajar bukan sekadar menyelesaikan tugas, melainkan melatih kemampuan berpikir dan memecahkan masalah. Saya sering menekankan kepada mereka bahwa AI bukan pengganti berpikir, melainkan alat bantu berpikir. AI bisa memberikan informasi, tetapi tanggung jawab untuk menilai kebenaran dan makna dari informasi itu tetap ada pada manusia.

Fenomena ini menjadi refleksi penting bagi saya dan rekan-rekan guru lainnya. Kita tidak bisa melarang siswa menggunakan AI, karena kenyataannya dunia di sekitar mereka memang sudah dikelilingi oleh teknologi. Yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan, membimbing, dan memberikan pemahaman etika dalam penggunaannya. Siswa perlu belajar tentang tanggung jawab digital — bahwa teknologi harus digunakan untuk menambah pengetahuan, bukan untuk menghindari usaha. Dengan bimbingan guru, AI dapat menjadi teman belajar yang mendorong kemandirian dan kreativitas siswa.

Lingkungan sekolah pun perlu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan ini. AI telah menjadi bagian dari kehidupan belajar, dan sekolah sebaiknya menyediakan ruang serta kebijakan yang mendukung penggunaannya secara positif. Saya melihat pentingnya pelatihan bagi guru agar tidak gagap teknologi, sebab guru yang paham dan nyaman dengan AI akan mampu mengarahkan siswanya secara bijak. Selain itu, kesenjangan fasilitas juga menjadi perhatian penting. Tidak semua siswa memiliki perangkat dan akses internet yang sama, sehingga sekolah perlu menciptakan sistem pembelajaran yang inklusif agar semua anak tetap memiliki kesempatan belajar yang setara di era digital ini.

Dari pengalaman pribadi saya, menggunakan AI membuat saya banyak belajar hal baru, bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang cara berpikir kreatif dan reflektif. Saya belajar untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pengarah yang mampu menilai kapan AI benar-benar membantu dan kapan saya perlu mengandalkan naluri dan pengalaman sebagai guru. Ada saat di mana saya kagum dengan jawaban cerdas yang diberikan AI, namun ada pula saat di mana saya merasa tidak ada sistem apa pun yang bisa menggantikan momen ketika seorang siswa memahami pelajaran berkat penjelasan sederhana yang saya berikan dengan penuh kesabaran. Momen-momen itulah yang membuat profesi guru tetap istimewa.

Saya percaya, masa depan pendidikan bukan tentang menggantikan guru dengan teknologi, melainkan memperkuat guru dengan teknologi. AI akan menjadi rekan kerja yang baik jika kita menggunakannya dengan bijak. Guru tetaplah sosok yang mampu menyalakan semangat belajar, menanamkan nilai-nilai moral, dan memberikan arah di tengah banjir informasi yang terus mengalir. AI mungkin mampu memberikan jawaban cepat, tetapi hanya guru yang mampu mengajarkan arti dari sebuah jawaban.

Kehadiran AI adalah peluang besar untuk menjadikan pembelajaran lebih menarik, efisien, dan relevan dengan kehidupan nyata. Namun, keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada bagaimana guru dan siswa bersikap terhadapnya. Jika kita mampu menyeimbangkan antara pemanfaatan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, maka AI bukanlah ancaman, melainkan sahabat dalam perjalanan menuju pendidikan yang lebih maju dan bermakna.

Sebagai guru, saya akan terus belajar, beradaptasi, dan membuka diri terhadap perubahan ini. Sebab, sejatinya guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembelajar. Dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi semangat untuk mendidik dengan hati tidak akan pernah tergantikan.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan

Penulis : smakuska.bersinar

Tulisan Lainnya

Oleh : smakuska.bersinar

Pengenalan Wajah menggunakan AI

Lokasi Sekolah

Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Info Sekolah

SMAS Katolik Untung Suropati Krian

NSPN : 20501860
JL. Ki Hajar Dewantara no. 175 Keterungan, Krian, Kabupaten Sidoarjo
TELEPON (031) 8987239
EMAIL smakkatolikrian@gmail.com
WHATSAPP +62856-4811-5945